Menulis
itu Mudah
Resume
ke : 10
Gelombang : 22
Tanggal : Senin, 25 Oktober 2021
Tema : Menulis itu Mudah
Narasumber : Dr. Ngainun Naim
“Menulis itu mudah, asal terbiasa.” – Dr. Ngainun Naim --
Selamat belajar kembali
di kelas pelatihan menulis PGRI. Sebenarnya apa sih tema pada pertemuan ke 10
ini? Ya, betul sekali. Temanya adalah Menulis
itu mudah. Mengapa bisa mudah? Ya karena sudah terbiasa. Begitulah penjelasan
dari Dr. Ngainun Naim, seorang dosen dan Doktor dari IAIN Tulungagung. Kegiatan
kali ini akan ditemani Bu Aam Nurhasanah sebagai moderatornya. Narasumber yang
lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975 ini memiliki banyak sekali karya,
diantaranya Menulis itu Mudah (2021),
Literasi dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020), Spirit Literasi (Akademia Pustaka,
2020), dan karya lainnya yang berjumlah hingga 26 judul karya.
Kiat
Menulis Agar Mudah
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan untuk membiasakan menulis dan menjadikan menulis sebagai
kegiatan yang mudah dilakukan, diantaranya:
1.
Mindset
Segala sesuatu itu tergantung apa
yang ada di pikiran kita, kalau kita berpikir itu sulit, maka ia akan menjadi
sulit. Jika kita menilai itu mudah, maka kita pasti mudah melakukannya. Jadi,
walaupun sesulit apapun, ketika kita mau mencoba dan konsisten maka tentu akan
jauh lebih mudah. Mengapa? Karena terbiasa. Ubah mindset yang negatif dan kurang produktif menjadi stay positif ya.
2. Ciptakan
pikiran bahwa menulis adalah keterampilan Sekolah Dasar
Kegiatan menulis memang sudah kita
pelajari di bangku Sekolah Dasar, bahkan sebelum itu kita sudah belajar menulis
sederhana. Mulailah untuk memberikan sugesti bahwa menulis itu adalah
keterampilan Sekolah Dasar yang tentunya harus dan pasti sudah dikuasai. Walaupun
memang hasilnya tidak langsung bagus, tapi kebiasaan dan aspek pendukung
lainnya secara tidak langsung akan membentuk keterampilan menulis itu sendiri. Ciptkan
minat yang besar dan kemauan untuk terus berlatih dalam menulis.
3. Banyak
membaca
Salah satu kiat yang sering penulis
paparkan adalah membaca. Ya, menulis adalah kegiatan menuangkan ide. Dimana ide
itu muncul, salah satunya adalah dengan membaca. Orang yang suka atau menyukai
kegiatan membaca tentunya akan lebih mudah menuangkan ide atau gagasan ke dalam
tulisan dari pada orang yang tidak suka membaca. Hal ini didukung dengan
banyaknya konsep dan topik pembahasan yang dipahaminya melalui kegiatan
membaca. Mulailah dengan membaca bidang yang disukai atau dikuasai agar kegiatan
menulis jauh lebih mudah. Sehingga hal ini akan mendukung mudahnya menuangkan
ide dalam tulisan.
4. Meluangkan
waktu, bukan menunggu waktu luang
Tips kedua dan paling sering dibahas oleh penulis adalah meluangkan waktu, bukan menunggu waktu
luang. Tentunya di antara kita selalu mempunyai tugas dan deadline yang menumpuk sebagai rutinitas
setiap hari, sedangkan hati ingin mencoba menulis bahkan menjadi seorang
penulis. Coba luangkan waktu setiap hari 5-10 menit untuk menulis dan buktikan
apa yang terjadi dalam 1 bulan atau waktu yang lebih panjang. Maka sebenarnya
kita bisa menghasilkan sebuah buku. Jika sudah menjadi kebiasaan, tentu durasi
menulis bisa disesuaikan untuk masing-masing orang. Bisa memulai menulis dengan
media apa saja, misalnya melalui ponsel, status di sosmed, catatan kecil, atau
blog, dan masih banyak media lain yang membantu menyalurkan ide yang muncul di
kepala.
5. Rajin
mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan
Sebenarnya secara tidak langsung
setiap hari kita mengamati apa yang terjadi di sekitar kita, misalnya pak
satpam yang membukakan pintu masuk bank, ibu-ibu yang menerobos lampu merah,
hijaunya tetumbuhan di depan rumah, siswa-siswi di sekolah yang sering
melakukan curhat, dan apa saja. Kita mengamati hal itu tanpa sadar setiap hari.
Seorang penulis harus lebih tajam mengasah pendengaran dan penglihatannya. Mulailah
catat apa saja yang muncul, bisa dimulai dari ide yang sederhana. Ide yang
sederhana pun jika dikemas dalam tulisan yang bagus maka hasilnya pun akan
bagus pula. Setelah catatan berbentuk poin-poin atau pokok penting, kita bisa
mengolahnya menjadi tulisan yang utuh.
6. Belajar
menulis kepada penulis
Hal inilah yang coba kita lakukan,
belajar menulis bersama di kelas pelatihan menulis PGRI, dimana kita belajar
tentang kiat menulis dari banyak penulis. Mungkin masing-masing orang memiliki
tips yang sama bahkan banyak yang berbeda karena setiap orang unik. Kita bisa
berguru dari banyak orang yang sudah berhasil dan memilih metode yang sesuai
dengan kita agar kita pun bisa menjadi seorang penulis dengan tulisan yang
bermutu.
Bagaimana? Dari paparan
di atas kita sudah mendapat gambaran tentang kiat menulis agar mudah ya. Kali ini,
kita akan melanjutkan materi tentang
kunci menulis hingga menerbitkan buku, tetap fokus dan simak topik selanjutnya.
Kunci
Menulis hingga Menerbitkan Buku
Kunci utama dalam
menulis hingga menerbitkan buku adalah ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ambillah
buku, lalu cermati. Selain dibaca, kita perlu mencermati setiap buku yang kita
baca. Kita bisa mengambil satu buku yang kita sukai dan mengamati. Coba amati
bagaimana gaya penyajiannya, sistematika, tampilannya kok bisa menarik dan kita
suka, font-nya, dan lain sebagainya. Dari
proses mengamati tadi, kita bisa memodifikasi dari gaya penceritaan atau dengan
gaya bahasa kita sendiri. Lebih lanjut, orang yang suka menulis dibedakan
menjadi beberapa tipe, yaitu sebagai berikut:
1. Mereka
yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis. Menulis merupakan
hal biasa dan dibiasakan oleh orang tipe ini.
2. Penulis
musiman. Penulis tipe ini bergantung momentum, bila dikejar deadline, penulis tipe ini akan sangat
produktif tapi bila tidak ada deadline penulis
tipe ini bisa berhenti atau tidak produktif lagi, misalnya ketika mengerjakan
akinerja, tugas presentasi, dan lain sebagainya.
3. Penulis
yang pernah produktif. Faktor yang yang mempengaruhi seorang penulis yang sudah
tidak produktif lagi, misalnya kesibukan kerja, dari kegiatan menulis sudah
tidak memberikan keuntungan secara finansial, kalah dengan kehadiran penulis
lama, dan lain sebagainya.
4. Penulis
yang pernah muncul dengan karyanya (pernah menulis). Penulis tipe ini sudah
tidak lagi menulis tetapi sejarah mencatat penulis tipe ini pernah menorehkan
karya.
5. Penulis
cita-cita. Cita-citanya sih menjadi seorang penulis tetapi penulis tipe ini
belum pernah menulis satu judul buku pun tapi masih memiliki cita-cita menjadi
penulis. Entah suatu saat nanti.
Dalam
perspektif berbeda, penulis buku Nurul Chomaria membagi penulis menjadi 4
kuadran, yaitu sebagai berikut.
1. Penulis
yang mau dan mampu
2. Penulis
yang tidak mampu tapi mau
3. Penulis
yang mampu tapi tidak mau
4. Penulis
yang tidak mampu dan tidak mau
Nah, tadi kita sudah
membahas bahwa tips dari beberapa penulis yang sama salah satunya adalah
membaca. Menjadi seorang penulis yang hebat tentunya tidak terlepas dari materi
yang di baca. Padahal banyak penelitian dan survei yang menjelaskan bahwa minat
baca di negara kita masih rendah. Lalu apa saja sih yang perlu diperhatikan
untuk menyukai kegiatan membaca? Berikut tips agar kita suka membaca.
1. Baca
buku atau materi dengan bidang yang disukai dan dikuasai
2. Biasakan
memahami isinya, bukan hanya cepat selesai membacanya tanpa memahami isi
3. Biasakan
membaca kritis, lihat isinya, cermati, dan pertanyakan. Menulis itu mudah, asal
terbiasa dan dibiasakan. Membaca pun menjadi kegiatan yang menyenangkan ketika
kita tau triknya.
Kalau disimak lebih
dalam, sebenarnya ketiga tips agar suka membaca tersebut bisa kita lakukan dan
biasakan setiap hari ya. Mulai belajar dari sekarang. Tapi sebelum itu, kita
akan membahas lebih lanjut sebenarnya penyebab rendahnya masyarakat yang suka
membaca itu apa sih? Hal ini bisa didukung dari pendidikan yang tidak mendesain
anak-anak untuk mencintai literasi. Saat ini, pemerintah dan masyarakat sudah
menggalakkan pentingnya membaca bahkan kegiatan literasi pun sudah mulai
digencarkan dengan banyak program, misalnya kegiatan berliterasi, webinar yang
mengangkan tema literasi, pojok baca, fasilitas membaca di tempat umum, dan
masih banyak lagi kegiatan pendukung masyarakat cinta literasi lainnya. Kedua, akses baca terbatas. Poin kedua
ini mungkin masih dirasakan bagi masyarakat kita yang masih kesulitan jaringan
internet, fasilitas perpustakaan, dan fasilitas literasi yang lainnya. Pemerintah
dan masyarakat dengan berbagai macam program pun sudah mulai memberi solusi
terhadap masalah ini, menyumbang buku di daerah yang minim fasilitas membaca,
perpustakaan keliling, dan lain sebagainya. Ketiga
adalah serangan teknologi informasi. Berbeda dengan poin kedua tadi, poin
ketiga ini terjadi karena didukung dengan pesatnya perkembangan informasi yang
justru tidak mendukung kegiatan membaca, misalnya ketika kita lebih suka
menonton TV atau youtube dari pada membaca buku karena menurut sebagaian orang
melihat dan mendengar itu jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membaca
buku dan lain sebagainya.
Wah, banyak sekali
informasi dari kelas pelatihan menulis pertemuan ke 10 ini ya. Semoga kita bisa
meningkatkan keterampilan dan kemampuan menulis serta didukung komitmen yang
makin kuat. Oia, setelah membaca kuadran penulis tadi, kira-kira kita masuk di
kuadran berapa ya?... belajar itu menyenangkan.
Comments
Post a Comment