Kiat
Menulis Cerita Fiksi
Resume
ke : 11
Gelombang : 22
Tanggal : Rabu, 27 Oktober 2021
Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi
Narasumber : Sudomo, S.Pt
“Kita tidak harus menunggu datangnya
inspirasi, kita sendirilah yang menciptakannya.” – Stephen King --
Di
kelas pelatihan kali ini, memantik kembali tentang menulis cerita fiksi yang
pernah dibahas secara tuntas di bangku perkuliahan dan juga di kelas
pembelajaran bahasa Indonesia. Akan tetapi, satu hal yang menarik adalah topik
yang sering dipelajari tapi hingga kini saya belum satu pun menghasilkan buku
dengan karya fiksi secara solo. Sebuah ironi untuk menepuk pundak sendiri.
Sebuah karya fiksi merupakan sebuah proses kreatif yang menurut saya tidak
mudah karena menghadirkan imajinasi seorang penulis dan dideskripsikan dengan
gaya penceritaan yang khas sehingga topik kali ini tetap menarik menurut saya
apalagi sebagai guru bahasa Indonesia. Narasumber kali ini adalah Bapak Sudomo,
alumni BM 16, dan seorang guru IPA di SMPN 3 Lingsir Lombok Barat NTB dan ditemani
oleh Bapak Dail Ma’ruf sebagai moderatornya.
Bapak
Sudomo saat ini masih mengikuti program guru penggerak angkatan 2 Kab. Lombok
Barat. Bapak Sudomo yang memiliki nama pena Momo DM ini lahir di Sukoharjo, 27
Maret 1975. Beliau sudah menerbitkan beberapa buku, seperti cerita anak
‘Pahlawan Anti Korupsi, Sudah Adil kok!” melalui penerbit fantastic M & C
Gramedia Jakarta serta 10 buku yang lainnya.
Untuk
non fiksi, Beliau menerbitkan wisata Lombok seri pantai berjudul ‘Dong Ayok ke
Lombok!” bersama penulis Lombok lainnya melalui penerbit Dimensi Publising pada tahun 2013. Buku lainnya seperti antalogi
bersama penulis lainnya ‘My Life as blogger’ self publishing nulisbuku.com tahun 2015 dan beberapa buku yang
lainnya.
Sebenarnya,
untuk prestasi Bapak Momo sangat banyak, yaitu sekitar 2007-2020. Prestasi
Beliau di tahun 2020, misalnya menjadi juara II Lombok Menulis Cerita Rakyat
Sasak Kategori Umum yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Daerah Kabupaten Lombok Barat. Selain itu, menjadi 20 terbaik kategori blog PTK
dalam acara proyek akhir aksi nyata kita melawan kekerasan berbasir gender yang
diselenggarakan oleh pusat penguatan karakter Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI.
Mengapa
Menulis Fiksi?
Mungkin ada banyak
pertanyaan kita tentang mengapa kita harus menulis fiksi, apa keuntungan, atau
manfaatnya? Banyak sekali. Beberapa di antaranya terkait dengan Assesmen
Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Salah satu komponen dari ANBK ini adalah
literasi, misalnya teks literasi fiksi. Sehingga banyak dari kita yang
berprofesi sebagai guru bisa mengeksplore bakat menulis kita dengan menampilkan
kutipan-kutipan fiksi dari karya pribadi ke dalam soal atau latihan soal siswa
di kelas.
Ketika kita berbicara tentang karya fiksi, tentu tidak terlepas dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Hal ini juga berkaitan erat dengan kebiasaan penulis dalam mengembangkan ide dan imajinasinya. Teks fiksi meliputi cerpen, novel, roman, fiksimini, flashfiction, pentigraf, novelet, dan lain sebagainya.
Unsur
Intrinsik dan Ekstrinsik
Unsur intrinsik adalah
unsur pembangun dalam sebuah cerita (unsur di dalam karya, yang membentuk
cerita). Ada beberapa aspek dalam unsur intrinsik ini, yaitu tema, tokoh dan
penokohan, alur, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan Pak Momo menambahkan
premis. Penjelasannya adalah sebagai berikut.
1. Tema
Tema adalah ide atau topik yang
melatar belakangi sebuah cerita. Tips menentukan tema adalah memilih tema di
sekitar, ambil topik yang menarik perhatian penulis atau pembaca, bahan mudah
diperoleh, dan ruang lingkup terbatas. Cara menentukan tema sebenarnya
menyesuaikan penulis, seperti mengangkat kisah kehidupan nyata, imajinasi,
hasil membaca, atau pun bisa berupa curahan hati.
2. Tokoh
dan penokohan
Tokoh adalah pelaku dalam cerita
sedangkan penokohan adalah watak/karakter dari masing-masing tokoh dalam cerita.
Ada 2 jenis tokoh dalam cerita, tokoh utama dan sampingan. Sedangkan untuk
penokohan sendiri ada 3 jenis, yaitu protagonis (pendukung cerita-baik),
antagonis (berlawanan dengan cerita-jahat), dan tritagonis (penengah dalam
cerita). Teknik penggambaran tokoh ada analitik, lingkungan tokoh, bahasa yang
dituturkan tokoh, dan penggambaran tokoh lain.
3. Alur
Alur atau plot adalah rangkaian
sebuah cerita. Ada tiga macam alur, meliputi maju, mundur, dan campuran (flashback dan kronologis). Unsur alur ini
bisa berupa pengenalan awal cerita, awal konflik, menuju konflik, konflik
memuncak/klimaks, konflik mulai menurun/penyelesaian. Alur berkaitan dengan
struktur cerita dan bisa diubah sesuai keinginan penulis.
4. Latar
Latar bisa disebut juga setting
adalah penggambaran cerita yang meliputi tempat, waktu, dan suasana.
5. Sudut
Pandang
Sudut pandang adalah dimana penulis
memposisikan dirinya dalam cerita. Macam-macam sudut pandang adalah orang
pertama tunggal, orang pertama jamak, orang kedua tunggal, orang kedua jamak, orang
ketiga tunggal, dan orang ketiga jamak.
6. Gaya
Bahasa
Gaya bahasa adalah penggambara atau
bahasa yang digunakan penulis dalam menampilkan ceritanya. Gaya bahasa dari
masing-masing penulis menjadi sangat khas dalam menggambarkan isi cerita,
tahapan-tahapan peristiwa, dan lain sebagainya.
7. Premis
Premis adalah ringkasan cerita
dalam satu kalimat. Unsur premis seperti katarkter dan tujuan tokoh. Cara
membuat sebuah premis yang pertama adalah tulis masing-masing unsur pembentukan
cerita dan rangkai menjadi satu kalimat utuh yang menggambarkan cerita secara
keseluruhan, misalnya seorang anak SMK berusaha keras menaklukkan pelajaran
fisika. Contoh lain adalah tentang novel Herry Potter misalnya, premisnya
adalah seorang anak yang pandai sihir harus berjuang melawan penyihir jahat
demi kedamaian dunia.
Selain unsur instrinsik
di atas, sebuah cerita fiksi juga dilengkapi dengan unsur ekstrinsik. Unsur
ekstrinsik meliputi, latar belakang penulis, bahasa, dan nilai. Hal ini
berkaitan dengan unsur di luar cerita tetapi juga mendukung sebuah cerita fiksi
yang dihasilkan. Nah, sekarang kita akan membahas tentang proses kreatifnya,
bagaimana menghasilkan karya fiksi terbaik.
1. Niat
Apa pun kegiatannya sebenarnya
diawali niat. Jika niatnya kuat dan hal yang dilakukan baik maka tidak perlu
menunda untuk melakukannya. Kuatkan niat dan bangun komitmen yang kuat dalam
melakukannya.
2. Baca
fiksi orang lain
Untuk menulis, syarat utamanya
adalah membaca misalnya dengan membaca karya orang lain. Kalau menyukai karya
fiksi bisa membaca buku fiksi dari penulis best
seller atau favorit. Sehingga lebih semangat untuk memulainya.
3. Ide
dan genre
Ketika mendapatkan ide, segera
catat. Menemukan ide bisa dengan cara mengembangkan imajinasi dan pilihan genre
disesuaikan dengan topik yang disukai atau dikuasai.
4.
Outline
Kerangka disusun berdasarkan
unsur-unsur pembangun cerita fiksi.
5. Menulis
Mulailah menulis sekarang, paksa,
dan biasakan. Tulis apa saja dan pada saat sedang bersemangat bisa membacanya
kembali dan mengembangkan ide cerita kembali.
6. Swasunting
Bisa menggunakan teknik show don’t
tell, misalnya ketika suasana yang digambarkan dalam keadaan sedih tidak
dijelaskan secara lugas tetapi melibatkan gerak, suasana, gaya bahasa tertentu
agar pembaca ikut merasakan bahwa suasananya sedih.
Apapun hal baik yang
ingin kita mulai, mulailah dengan niat, lakukan, dan biasakan. Apapun genrenya,
ikuti tips di atas ya. Belajar itu menyenangkan.
Comments
Post a Comment